Rabu, 03 Oktober 2018

JUMLAH CABANG-CABANG IMAN



إِيْمَانُنَا بِضْعٌ وَعَيْنٌ شُعْبَةً  -  يَسْتَكْمِلَنْهَا أَهْلُ فَضْلٍ يَعْظُمُ
IMAN UNTUK KITA ITU ADA TUJUH PULUH TUJUH CABANG
LAKSANAKANLAH DENGAN KESEMPURNAAN SEMUA CABANG IMAN TERSEBUT
MAKA KAU AKAN MENJADI ORANG YANG PALING MULYA DAN PALING AGUNG






Aku berniat (penulis kitab syarah  قمع التغيان  ini yaitu Syekh Nawawi Albantani), sesungguhnya untuk dapat menghasilkan (mengerjakan) cabang-cabang dari semua iman yang tujuh puluh tujuh cabang ini.
Seperti sabda Nabi Muhammad SAW : “Macam-macam iman itu ada tujuh puluh tujuh cabang, maka yang lebih utama iman adalah membaca lafadz  لا إله الاالله ,dan yang lebih rendah-rendahnya iman itu adalah membuang sampah di jalan umum, dan mempunyai rasa malu itu adalah termasuk dalam cabang iman.” Telah diriwayatkan tentang hadist ini oleh ahli-ahli hadist.
Dalam fiqih kita diwajibkan beriman dalam tujuh cabang iman, diantaranya :
1.    Iman kepada Robb mu, yaitu Alloh SWT
2.    Iman kepada malaikat-malaikat-Nya Alloh SWT
3.    Iman kepada kitab-kitab-Nya Alloh SWT
4.    Iman kepada nabi-nabi-Nya Alloh SWT
5.    Iman kepada hari akan dirusak-Nya ‘alam, yaitu qiyamat
6.    Iman kepada qodho dan qodar yang baik dan tidak baik
Berkata penulis kitab ini, lafadz إِيْمَانُنَا  itu artinya cabang-cabang iman.
Kemudian berkata penulis kitab ini, lafadz بِضْعٌ dengan kasroh hurup BA (ب) dan (ataupun) fatah BA (ب), ma’nanya menurut Syekh Jalil adalah tujuh, itu adalah murod ini.
Kemudian berkata penulis kitab ini, lafadz وَعَيْنٌ  ma’nanya adalah tujuh puluh, karena hurup ‘AIN itu sama dengan tujuh puluh, seperti hurup HAMZAH (ء) sama dengan satu, dan hurup YA (ي) dibawah sepuluh, sedangkan huruf QOF (ق) sama dengan seratus, dan huruf GIN (غ) seukuran dengan seribu.
Kemudian berkata penulis kitab ini, lafadz  شُعْبَةً itu adalah nisob tamyiz.
Kemudian berkata penulis kitab ini, lafadz يَسْتَكْمِلَنْهَا  dengan NUN (ن) taukid ringan dan hurup SIN (س) karena bilangan (hitungan) atau karena latob, ini adalah fi’il madore’ dan fa’ilnya lafadz tadi.
Kemudian berkata penulis kitab ini, lafadz أَهْلُ فَضْلٍ  dengan membuang atau menghilangkan tanwin karena wazan, maknanya adalah orang yang dimulyakan, itu perumpamaanya.
Didalam tujuh puluh tujuh cabang iman ini akan menyempurnakan nafsu, karena jika dapat melaksanakan semuanya, itu akan memperbaiki segala permasalahan dunya dan memperbaiki segala permasalahan akherat.
Pelajarilah semua cabang iman tersebut.
1.    Beriman kepada Alloh SWT
2.    Beriman kepada para Rasul Alloh 'alaihim as-salaam
3.    Beriman kepada para malaikat Alloh
4.    Beriman kepada Al-Quran dan semua kitab yang terdahulu
5.    Beriman kepada qadar (ketentuan) dari Allah, yang baik maupun yang buruk
6.    Beriman kepada hari akhir
7.    Beriman kepada kebangkitan setelah kematian
8.   Beriman bahwa manusia akan dikumpulkan (di mahsyar) setelah mereka dibangkitkan, sampai mereka dipanggil satu per satu menghadap Alloh
9.   Beriman bahwa tempat tinggal kaum beriman di akhirat adalah surga, sementara tempat tinggal kaum kafir adalah neraka
10.  Beriman kepada wajibnya mahabbah (mencintai) Alloh SWT
11.  Beriman kepada wajibnya khouf (merasa takut) kepada Alloh SWT
12.  Beriman kepada wajibnya roja' (berharap) kepada Alloh SWT
13.  Beriman kepada wajibnya tawakkal (bersandar) kepada Alloh SWT
14.  Beriman kepada wajibnya mencintai Nabi shollallohu 'alaihi wa alihi wasallam
15.  Beriman kepada wajibnya mengagungkan, menghormati dan memuliakan Nabi shallallohu 'alaihi wa alihi wasallam
16.  Tidak rela melepas agamanya, sampai tingkatan lebih suka dilemparkan ke dalam api daripada menjadi kafir
17.  Mencari ilmu
18.  Menyebarkan ilmu
19. Mengagungkan Al-Qur'an, yakni dengan mempelajari, mengajarkan, memelihara batas-batas serta hukum yang ditetapkannya, memahami halal-haramnya, menghormati ahli Al-Qur'an dan para hafizh-nya, menangis tatkala mendengar janji dan ancaman Alloh SWTdi dalamnya
20.  Bersuci
21.  Sholat lima waktu
22.  Zakat
23.  Puasa
24.  I'tikaf
25.  Hajji
26.  Jihad
27.  Berjaga di medan perang (ribath) di jalan Alloh SWT
28.  Teguh menghadapi musuh dan tidak melarikan diri (desersi) dari medan perang
29. Bagi yang mendapat ghanimah, menyerahkan seperlima darinya untuk imam dan para pejabat yang ditunjuk untuk mengumpulkannya
30.  Memerdekakan budak semata-mata mengharap bertemu Alloh SWT
31.  Menunaikan kaffarat yang wajib bagi yang melanggar hukum jinayat
32.  Memenuhi janji
33.  Menghitung-hitung nikmat Alloh dan mensyukurinya
34.  Menjaga lisan dari hal-hal yang tidak ada perlunya
35.  Menjaga amanat dan menunaikannya kepada yang berhak
36.  Mengharamkan pembunuhan dan tindakan jinayat kepada siapapun
37.  Mengharamkan kemaluan dari hal terlarang dan berusaha mejaga kehormatan diri
38.  Menahan tangan dari harta (yang bukan haknya)
39.  Wajib bersikap wara' dalam hal makanan, minuman, dan menjauhi hal-hal yang tidak dihalalkan
40.  Tidak mengenakan pakaian atau menggunakan wadah-wadah yang haram atau makruh
41.  Mengharamkan permainan dan kegiatan selingan yang bertentangan dengan syari'at
42.  Berhemat dalam membelanjakan harta dan mengharamkan makan harta secara batil
43.  Meninggalkan dendam dan iri dengki
44.  Mengharamkan merusak kehormatan orang lain dan tidak menodainya dengan cara apapun
45.  Mengikhlaskan amal semata-mata untuk Alloh SWT dan tidak riya'
46.  Merasa gembira terhadap kebaikan dan sedih terhadap keburukan
47.  Mengobati setiap dosa dengan bertaubat
48.  Berkurban, termasuh kurban dalam rangkaian ibadah haji, sembelihan kurban di luar ibadah haji, dan akikah
49.  Menaati perintah
50.  Berpegang teguh terhadap apa yang dipegangi oleh jamaah kaum muslimin
51.  Menetapkan hukum diantara manusia secara adil
52.  Amar ma'ruf nahi munkar
53.  Saling menolong dalam kebajikan dan taqwa
54.  Mempunyai rasa malu
55.  Berbakti kepada kedua orang tua
56.  Menyambung tali persaudaraan (silaturrahim)
57.  Berakhlaq yang baik
58.  Berbuat ihsan kepada budak, termasuk pembantu
59.  Hak seorang majikan atas budaknya
60.  Hak anak dan keluarga
61.  Bergaul akrab dengan orang yang taat beragama, mencintai mereka, menebarkan salam kepada mereka, berjabat tangan dengan mereka, dan beragam tindakan lain yang dapat mempererat jalinan cinta kasih dengan mereka
62.  Menjawab salam
63.  Menjenguk orang sakit
64.  Menyalati jenazah sesama muslim
65.  Mendoakan orang yang bersin
66.  Menjauhi orang-orang kafir dan orang-orang yang suka menebar kerusakan, serta bersikap keras kepada mereka
67.  Memuliakan tetangga
68.  Memuliakan tamu
69.  Menutupi kesalahan orang-orang yang berdosa
70.  Bersabar menghadapi musibah dan segala yang menarik bagi jiwa, yakni kelezatan dan syahwat
71.  Zuhud dan pendek angan-angan
72.  Cemburu dan tidak mengizikan pergaulan bebas
73.  Berpaling dari hal yang main-main
74.  Murah hati dan dermawan
75.  Menyayangi yang lebih kecil (muda) dan menghormati yang lebih tua
76.  Mendamaikan dua orang yang bersengketa
77.  Mengharap agar saudaranya sesama muslim memperoleh sesuatu yang dia pun sangat mengharapkannya untuk dirinya sendiri, juga membenci jika saudaranya mendapat sesuatu yang ia sangat membencinya jika menimpa dirinya sendiri

Demikian disampaikan tentang tuqilan kitab ini, mohon ma’af bila ada salah penafsiran, hal itu semata-mata dari hamba yang dho’if dan fakir oleh ‘ilmu......
15 Muharrom 1440 H / 25 September 2018 M.
Dituqil dari kitab             : قمع التغيان
Karangan                      : Syekh Nawawi Albantani Aljawi
Perihal                          : Jumlah cabang iman

Selasa, 25 September 2018

BERSUCI SECARA TASOUF




وَاطْلُبْ لِعِلْمِ ثُمَّ لَقِّنْهُ الوَرَى  عَظَّمْ كَلَامَ الرَّبِّ وَاطْهُرْ تُعْصَمُ
Bersuci (وَاطْهُرْ تُعْصَمُ) adalah termasuk cabang iman yang ke-20 dalam kitab syarah قمع التغيان karangan Syekh Nawawi Albantani Aljawi.
Telah berfirman Alloh SWT :
يأ يها الذين آ منوا اذا قمتم  الى الصلاة فاغسلوا وجوهكم وايديكم الى المرافق وامسحوا برءكوسكم وأرجلكم الى الكعبين وان كنتم جنبا فا طهروا وان كنتم مرضى او على سفر او جاء أحد منكم من الغا ءط او لا مستم لنساء فلم تجدوا ما ء فتيمموا صعيدا فامسحوا بوجوهكم وأيديكم منه
Ma’nanya wallohu a’lamu bihaqiqotil murodh...
Telah bersabda Rosulalloh SAW : الطهور شطر الايمان
 “Bersuci itu adalah sebagian daripada iman.”
Telah berkata Syekh Suhaemi : “lafazd الطهور  dengan dhomah tho, artinya berwudhu sebangsa dzohiriah dan bathiniah, itu adalah sebagian iman yang diibaratkan mendapatkan ganjaran (pahala).”
Telah berkata Syekh Hatim li’ashom Bin Yusuf : “dimana-mana telah hadir / datang waktu sholat, maka berwudhulah dengan dua wudhu, yaitu wudhu dzohir dan wudhu bathin.”
Telah bertanya Syekh ‘Ashom kepada beliau : “seperti apakah berwudhu dzohir ? dan seperti apakah berwudhu bathin ?”
Kemudian Syekh Hatim li’ashom Bin Yusuf menjawab :
“Adapun yang dimaksud dengan wudhu dzohir itu adalah cukup dengan berguru untuk mengetahui bagaiman tata cara berwudhu secara lahiriah kepada seorang guru, bagaimana peraktek-perakteknya, itu biasanya diatur dalam piqih, seperti dalam kitab safinatun naja, kitab riyadhul badi’ah, dll.”
“Adapun yang dimaksud wudhu bathin maka itu adalah engkau harus bertobat, meninggalkan malas-malasan, meninggalkan unek-unek (iri hati; dengki), tidak menipu (berbohong), tidak ragu-ragu (bimbang), tidak takabur (sombong), meninggalkan terlalu cinta / senang pada kedunyawian, meninggalkan ingin selalu disanjung oleh sesama makhluq, meninggalkan keinginan untuk jadi seorang pemimpin, dll.“
Sebagaimana dengan bahasan tadi, pengarang kitab, yaitu Syekh Nawawi Albantani Aljawi menerangkan bahwa lafadz تعصم dengan dhomah mim itu adalah untuk memantaskan mubtada pada tempat jazm fi’il amar. Sedangkan takdirnya adalah فأنت تعصم من البلاء (maka engkau telah dijaga dari segala musibah). Maka sesungguhnya bersuci itu mencegah dari segala musibah.
Seperti telah meriwayatkan sebagian ‘ulama : telah berkata Sayyidina ‘Umar RA, “Sesungguhnya wudhu yang bagus (benar sesuai dengan bahasan-bahasan di atas) itu akan menguncimu dari godaan syaeton....”
Demikian disampaikan tentang tuqilan cabang iman ke-20 ini, mohon ma’af bila ada salah penafsiran, hal itu semata-mata dari hamba yang dho’if dan fakir oleh ‘ilmu......
14 Muharrom 1440 H / 24 September 2018 M.
Dituqil dari kitab          : قمع التغيان
Karangan                    : Syekh Nawawi Albantani Aljawi
Bab                            : Cabang Iman ke-20 tentang Bersuci

MENGAGUNGKAN DAN MEMULYAKAN AL-QURAN




وَاطْلُبْ لِعِلْمِ ثُمَّ لَقِّنْهُ الوَرَى  عَظَّمْ كَلَامَ الرَّبِّ وَاطْهُرْ تُعْصَمُ
Barang siapa mengagungkan dan memulyakan Al-Quran (عَظَّمْ كَلَامَ الرَّبِّ), dan orang tersebut sedang mambaca Al-Quran, haruslah ia dalam keadaan bersuci, tidak boleh memegang Al-Quran kecuali dalam keadaan suci, bersiwaklah dan membersihkan sela-sela gigi ketika hendak membaca Al-Quran, dan berniatlah untuk membaca Al-Quran sambil duduk jikalau tidak dalam selain solat. Dan janganlah bergerak-gerak dan sedang mengenakan pakaian walaupun merapih-rapihkannya (jika sedang membaca Al-Quran), karena sesungguhnya engkau sedang berbicara dengan Robb mu, dan menghadaplah ke arah qiblat ketika sedang membaca Al-Quran. Sebaiknya berkumur-kumur bilamana akan memulai, tahanlah jika menguap karena mengantuk ketika sedang mambaca Al-Quran, sebaiknya membaca dengan ringan hati dan tartil, dan bacalah setiap hurup sesuai dengan haq-haqnya masing-masing hurup (sesuai makhrojnya).
Dan janganlah meninggalkan Al-Quran berserakan ketika menyimpannya, jangan menyimpan sesuatu pun di atas Al-Quran dari kitab-kitab lain, sehingga Al-Quran itu pertama berada paling atas dari semua kitab-kitab.
Jangan menyimpan Al-Quran didalam pangkuan ketika sedang membacanya, atau simpanlah sesuatu benda (contoh; papan) diantara tangan, jangan menyimpannya langsung di atas bumi / lantai, jangan dicampur / disimpan dari papan yang ada ludahnya, sebaliknya papan tersebut dicuci dahulu dengan air.
Jangan membaca Al-Quran di pasar dan jangan juga di rumah yang sedang ramai dan rumahnya orang bodoh (tidak mengerti).
Sebaiknya jangan menuangkan / mencuci / membasuh takala membasuh dengan tulisan Al-Quran (yang direndam dalam air) dengan maksud untuk menyembuhkan orang yang sakit di tempat yang ada najisnya dan tempat yang kotor, akan tetapi sebaiknya di tempat yang sepi di atas bumi dalam sebidang tanah yang belum pernah dijamah oleh manusia, atau menggali lubang di dalam suatu tempat yang masih suci, sampai menuangkan air tersebut untuk badannya orang yang sakit tadi di atas lubang untuk kemudian mengerjakan hal tadi, atau sebaiknya mengerjakannya di sungai yang besar agar tercampur air tersebut dengan sungai, maka akan ikut mengalir bersama sungai.
Sebaiknya bacalah kalimat Alloh di setiap-tiap tarikan nafas takala sedang menulis Al-Quran atau meminum air yang ada rendaman ayat Al-Quran atau air yang sudah dibacakan ayat Al-Quran.
Agungkan lah niatnya didalam hal-hal tersebut di atas (mengagungkan Al-Quran sabagai ayat-ayat Alloh SWT), maka sesungguhnya Alloh SWT mengabulkan atas kadar niatnya.
Demikian disampaikan tentang tuqilan kitab yang menerangkan tentang cabang iman ke-19 ini, mohon ma’af bila ada salah penafsiran, hal itu semata-mata dari hamba yang dho’if dan fakir oleh ‘ilmu......
11 Muharrom 1440 H / 21 September 2018 M.
Dituqil dari kitab            : قمع التغيان
Karangan                      : Syekh Nawawi Albantani Aljawi
Bab                              : Cabang Iman ke-19 tentang mengagungkan dan memulyakan Al-Quran

Jumat, 21 September 2018

MENYAMPAIKAN ‘ILMU SYAR’IYAH


وَاطْلُبْ لِعِلْمِ ثُمَّ لَقِّنْهُ الوَرَى  عَظَّمْ كَلَامَ الرَّبِّ وَاطْهُرْتُعْصَمُ
Penulis kitab syarah قمع التغيان , yaitu Syekh Nawawi Albantani Aljawi menjelaskan bagaimana menyampaikan ‘ilmu syar’iah (ثُمَّ لَقِّنْهُ الوَرَى), karena sesuai dengan sabda Rosulalloh SAW : “Sebaiknya, orang yang sudah melihat / mendengarkan ‘ilmu langsung dari guru / ‘ulama untuk menyampaikannya lagi kepada orang diantara kalian yang tidak hadir pada saat ‘ilmu tersebut disampaikan.” Artinya wajib kepada orang yang telah mendengarkan suatu ‘ilmu untuk menyampaikan lagi kepada orang yang tidak mendengarkannya. Hadist tersebut di atas itu disampaikan Rosulalloh SAW kepada para sohabat, lalu disampaikanlah lagi kepada kepada orang-orang setelah zaman sohabat, hingga sampai hari qiyamat. Maka wajib menyampaikannya oleh ahli ‘ilmu.
Maka jika setiap orang mempelajari suatu masalah, maka dari itu haruslah kepada ahli ‘ilmu untuk memecahkan masalahnya tersebut. Setiap orang pada umumnya yang mengetahui syarat praktek sholat baiknya memberitahukannya kepada selain orang yang sudah tahu (memberitahukan kepada yang belum tahu). Dan jika yang sudah mengetahui syarat praktek sholat tersebut tidak memberitahukannya itu adalah sama saja dengan sekumpulan orang-orang yang berdosa.
Dan wajib disetiap masjid dan tempat (majlis) di dalam sebuah kampung mempunyai seorang guru untuk menyampaikan ‘ilmu kepada sesama manusia yang belum mendapatkan ‘ilmu tersebut dan agar dapat dimanfa’atkan oleh sesama manusia. Dan hal yang sama disetiap kampung itu wajib kepada setiap orang yang ber’ilmu (guru) menyelesaikan / menyampaikan ‘ilmu-‘ilmu fardhu ‘ain sejalan dengan fardhu kifayah, serta mendatangi kampung tetangga (jika di kampung tetangga tidak ada seorang guru) untuk menyampaikan ‘ilmu kepada mereka, agamanya, fardhu-fardhu bangsa syara’nya, dan si guru itu harus menjadikannya sahabat, dan jika ke kampung tetangga si guru itu membawa bekal makanan sendiri, dan sebaiknya jangan (terutama berharap disuguhi) makan dari makanan tetangganya si guru, maka jika si guru tersebut punya satu niat demikian, maka gagallah melebur dosa yang telah dilakukannya (karena niat berguru dan menggurui itu dapat meleburkan dosa yang telah dilakukan). Tidak bakal tanggal dosa perdosaan semuanya.
Ada pun seorang ‘ulama itu sangat berhati-hati menyampaikan suatu ‘ilmu dan juga terhadap hal-hal yang tadi jika keluar kampung.
Ada pun orang yang bodoh itu sebaiknya berhati-hati jika tidak ikut menimba ‘ilmu (berguru).
Hal-hal terbebut telah dituturkan oleh Syekh Ahmad Assuhaemi saat menuqil sebuah kitab Imam Gozali.
Perlu diketahui bahwasanya orang ‘alim akherat itu terdapat tiga ciri :
1.     Tidak mencari dunya dengan ‘ilmunya
2.     Berniat hanya dengan ‘ilmu-‘ilmu untuk kebahagiaan ukhrowiyah (bangsa akherat) saja, maka mereka juga itu menyandingkan dengan ilmu bathin karena menyangkut rahasia-rahasia qolbu / hati.
3.     Mereka menekankan didalam penyampaian ‘ilmunya itu taqlid (mengikuti) ‘ulama / guru karena mencontohi syar’iyah didalam perkataannya dan tingkahnya.
Maka pertingkah tidak mencari dunya dengan ‘ilmunya itu ada lima tanda-tanda, yaitu :
1.     Tidak mengikuti ucapannya dalam tingkah lakunya, maka mereka memulai kerjaannya sesuai yang diperintahkan dan meninggalkan segala yang tidak diperbolehkan
2.     Terus-terusan dengan ‘ilmu yang kira-kira sekemampuannya, suka melaksanakan to’at (bakti) dan menjaga ‘ilmunya dari banyaknya perdebatan
3.     Menjauhi dari enak-enaknya makanan, rumah, harta benda dan tempat tinggal
4.     Menjauh dari bercampur dengan pemimpin, kecuali hanya karena untuk menasehati saja, mencegah penganiayaan atau karena menolong dalam mencari keridhoan Alloh SWT saja
5.     Tidak cepat-cepat untuk mengeluarkan fatwa, sebaliknya ia menjawab karena hati-hati apa-apa yang ditanyakan orang tentang yang ahli fatwa, mencegah dari kehati-hatiannya jika tidak jadi fardhu ‘ain kepadanya, malah sebaliknya menjawab “saya tidak mengetahui!” takala tidak mudahnya dalam kehati-hatiannya.

Mohon ma’af bila ada salah penafsiran, hal itu semata-mata dari hamba yang dho’if dan fakir oleh ‘ilmu......
8 Muharrom 1440 H / 18 September 2018 M.
Dituqil dari kitab            : قمع التغيان
Karangan                      : Syekh Nawawi Albantani Aljawi
Bab                              : Cabang Iman ke-18 tentang Menyampaikan ‘ilmu syar’iyah